Friday, September 28, 2012

Daybreak Midday

Encountered by Saturday with wild-eyed wandering
Picking up one in a million stars
To accompany you en route the weekend

The morning was good
The sun was bright
I began the day with washing some clothes
As always

I did my breakfast
When the road started roaring
It was a bit irritating
As the dust of mechanical life
Distracted my vision

So I got myself exiled
From crowds

It is time for mid day pray
People are marching on
With their ceremonial fashions

Still I'm making up my mind
Wonder how some parts still in a rush

Are they racing for the star
I have told you in the morning?
They're not supposed to do
in that way

Wednesday, September 26, 2012

Kelambu Hitam Kelabu

Di batu kali hitam kelabu
Di simpang ngarai sebuah udik
Sekawan ikan yang hilir mudik
Dalam aliran yang tembus pandang

Terik makin menghunjam,
dan laparpun kian merajam

Mengapa tetap hitam dan kelam
Memecah gelombang menjadi terbelah
Memberi nafas para insani
Bersenda gurau tertawa lepas

Di batu kali hitam kelabu
Setitik asa mengapung di genangan
Sebaris serapah urung tersurat
Mengusik kalbu yang tengah sesat

Tuesday, July 17, 2012

Pangeran Matahari, Garuda Emas, dan Baling-baling


Elang berbulu keemasan tersebut menyendiri tepekur pada sebuah gundukan tanah rerumputan, di bawah pohon yang tidak begitu lebat daunnya. Napasnya terengah-engah, matanya sayu, dan bulu-bulunya kucel. Rupanya ia baru saja melakukan penerbangan jauh. Di depannya terdapat sebuah cerukan tanah berisi sedikit air. Sesekali ia membungkuk dan mengarahkan paruhnya ke dalam cerukan air tersebut. "glk-glk-glk..." Pada lehernya terlihat gerakan menelan air. Setelah itu ia kembali tepekur sambil memandang sekeliling, setengah melamun.

Beberapa saat kemudian Si Elang Emas dikejutkan oleh suara bergemuruh. Ia peka sekali rupanya mendengar suara-suara yang jaraknya jauh. Matanya memandang ke sumber suara tersebut. Ah, benar sekali, suara itu ternyata derap kaki-kaki kuda. Tampaklah rombongan orang mengendarai kuda. Dari pakaian yang mereka kenakan, sepertinya rombongan itu bukan orang biasa, melainkan orang-orang dari kerajaan. Mungkin ia bangsawan atau orang yang dekat dengan kerajaan.

Benar sekali rupanya dugaan Elang Emas. Berada di barisan depan sendiri adalah seorang pangeran. Ia dikawal oleh delapan orang hulubalang.

Menyaksikan seekor burung elang adalah hal yang biasa bagi rombongan berkuda tersebut. Tetapi, yang mereka jumpai saat ini adalah burung elang berbulu emas. "Huuup! Berhenti!," tiba-tiba sang pangeran yang memimpin rombongan tersebut memerintahkan para pengawalnya untuk berhenti. "Ah, indah sekali burung itu?! Bulunya emas!" Seru sang pangeran. Sontak, Si Elang Emas menjadi kaget dan berusaha untuk berdiri tegak. Pada sekujur tubuhnya keluar keringat dingin. Ia menggigil dan merinding ketakutan. "Am...ampun... Jangan bunuh saya!" demikian pinta Si Elang.

"Hei! Siapa yang akan membunuhmu, Elang Emas? Oh, itu... Mereka itu pengawalku. Perkenalkan, aku Pangeran Matahari. Kami sedang berburu, seperti biasa kami lakukan setiap pekan." Jelas Sang Pangeran kepada Si Elang Emas.

"Oh, saya kira kalian akan membunuh saya. Saya sangat ketakutan melihat panah-panah yang kalian bawa itu." Kata Si Elang.

"Hahaha. Tenang saja. Aku hanya tertarik melihat bulumu, Elang. Warnanya emas, berkilau. Ah, tetapi mengapa sayap-sayapmu kelihatan lunglai?" tanya Pangeran.

"Oh, saya baru saja menempuh perjalanan yang jauh, Pangeran. Saya lelah sekali sehingga aku beristirahat." jawab Si Elang Emas.

"Ehm, begitu ya? Biasanya kami berburu apa saja. Tetapi, melihat dirimu aku tertarik sekali. Kamu istimewa sekali, Elang." Kata Pangeran.

"Ah, biasa saja, Pangeran. Ini pemberian sejak lahir. Tetapi saya merasakan biasa saja, tidak ada yang istimewa pada diri saya, juga pada warna bulu saya. Semua warna itu sama, Pangeran. Masing-masing memiliki makna." Kata Si Elang.

"Hahaha. Ternyata selain bulumu indah, kamu pintar pula. Apakah dirimu haus? Lapar?" tanya Pangeran.

"Sesungguhnya iya. Saya sangat lapar dan haus," jawab Elang.

"Apakah engkau mau ikut aku ke tempat tinggal kami, Elang Emas?" pangeran bertanya lagi kepada Si Elang.

"Ke mana? Bukankah tempat tinggal Pangeran itu....", belum selesai Elang mengajukan pertanyaan, Pangeran segera menjawab, "Istana? Ya, memang tempat tinggalku di sana. Mengapa? Adakah yang salah dengan hal tersebut, Elang?"

"Ehm, tidak ada, Pangeran. Saya, saya hanya merasa tidak enak saja. Saya biasa tinggal di sela bebatuan, di atas pohon. Saya merasa tidak pantas ikut kalian." Jelas Si Elang.

"Ah, jangan engkau pikirkan itu, Elang. Mari....kubawa kau ke tempat kami. Semua orang pasti menyukaimu." Pangeran berusaha membujuk Elang agar ikut dengan rombongan ke istana.

"Bagaimana dengan Raja, Ratu, Pangeran? Apakah mereka tidak marah melihat keberadaan saya?" Elang Emas masih enggan untuk ikut serta.

"Jangan pikirkan itu. Ayahanda Raja dan ibunda Ratu pasti setuju."

Elang Emas akhirnya setuju dengan ajakan Pangeran Matahari. Setelah melanjutkan kegiatan berburu sebentar, kesembilan orang berkuda tersebut beranjak kembali ke istana sambil membawa serta Elang Emas.

... bersambung ke Seriyal ke-2 :)

Monday, June 11, 2012

Super Tuesday di Sulanagar

Ki Gombloh Ijo adalah seorang tokoh yang sering dimintai nasihat oleh warga Desa Sulanagar jika warga mengalami masalah dan kesulitan. Suatu saat datang Gundul Cungkring dan Gembel Pambuko, dua orang tim sukses Calon Kepala Desa Sulanagar, Sabar Bromonilo. Mereka datang untuk meminta pertimbangan, atau setidaknya dorongan moril, perihal masalah mereka menghadapi debat Cakades yang terkenal dengan sebutan "Super Tuesday".

Ki Gombloh Ijo: "Apa gerangan angger berdua datang kemari?"

Gundul Cungkring: "Nganu, Ki. Kami minta petunjuk supaya dapat memenangkan debat "Super Tusday" mendatang, untuk memuluskan jalan memenangi Pilkades Sulanagar bulan depan, Ki."

Gembel Pambuko: "Iya, Ki. Sejauh ini jalan kami sangat mulus tanpa halangan. Nah, tiba pada Super Tuesday ini kami akan berdebat dengan pesaing terberat kami dari kampung sebelah. Mohon petunjuk supaya nanti berhasil, kemudian sukses dalam "Primary" untuk memuluskan jalan memenangi Pilkades bulan depan."

Ki Gombloh Ijo: "Ah, itu mudah. Tinggal siapkan ubo rampenya. Selebihnya nanti aku urus. Tapi aku minta dua orang dari tim sukses kalian untuk membawa piyandel selama debat berlangsung."

Gundul Cungkring: "Untuk apa, Ki? Kalau boleh tahu gitu, hihi."

Ki Gombloh Ijo: "Ya, mereka berdua kalian tugaskan untuk menelusup batas wilayah penting Cakades kampung sebelah. Tapi, mereka harus mau ambles bumi, atau istilahnya "nggangsir". Bagaimana?"

Gundul Cungkring: "Kiro-kiro sopo yo, Dik Gembel?"

Gembel Pambuko: "Ehm. Sak ngertine aku Kancil Prucil karo Atmojo Penangkep biso ngono. Piye, Mas Gun?"

Gundul Cungkring: "Nggih pun, Ki. Kami siap. Lalu, apa yang harus mereka lakukan selain ambles bumi?"

Ki Gombloh Ijo: "Mereka harus berguling-guling di pekarangan rumput di batas wilayah Cakades kampung sebelah. Sebelum menggulingkan badan mereka, orang pertama harus mengaitkan kakinya di sela-sela pagar tralis besi pekarangan; sedangkan orang kedua harus mengaitkan baju yang dikenakannya pada gagang pintu besi pekarangan tersebut."

Gembel Pambuko: "Oh gitu, Ki."

Ki Gombloh Ijo: "Iya. Selebihnya Gombloh Ijo yang ngatur. Akan ku bukakan pintu gerbang besi itu dengan kekuatanku. Nanti aku akan menggunakan aji-aji Dluwang Jene untuk mendobrak gerbang tersebut."

Gundul Cungkring: "Baiklah, Ki. Matur nuwun sanget. Ehm, ini sekedar oleh-oleh untuk Ki Gombloh Ijo."

Ki Gombloh Ijo: "Wah, terima kasih. Iki opo kiye? Kok gremet-gremet koyo sotho galeng ngene?"

Gembel Pambuko: "Oh, itu Krupuk Pastes, Ki. Makanan khas kampung kami, hehe."

Ki Gombloh Ijo: "Wah, yo wes tak icipane. Sudah, pokoknya beres. Super Tuesday akan menjadi milik Cakades kalian."

Benar juga, Ki Gombloh Ijo sangat berperan dalam Super Tuesday dan Cakades Sabar Bromonilo sukses dalam debat. Dalam pada itu Kancil Prucil bercurah hati kepada Gundul Cungkring,

Kancil Prucil: "Mas, Gun. Kok Ki Gombloh Ijo tahu aku harus bagaimana, ya?"

Gundul Cungkring: "Ah, ya dia kan punya doyo linuwih. Kok malah dirimu galau gitu to? Ono opo?"

Kancil Prucil: "Ora kok, Mas. Cuma...."

Gundul Cungkring: "Cuma opo? Sing jelas kuwi mau kabeh ora cuma-cuma lho, cekakak!"

Kancil Prucil: "Mas Gun mosok ora paham?"

Gundul Cungkring: "Iyo, aku paham to yaa. Bai-nde-wei, Lee Chong Wei, Bao Chunlai, wis lupakan. Kita nge-teh wae yuk ning Kucingan?"

Kancil Prucil: "Bao Chunlai kan wis pensiun wingi, Mas..."

Wednesday, February 22, 2012

Gefunden (J. W. von Goethe)

Author: Johann Wolfgang von Goethe

Ich ging im Walde    
So für mich hin,    
Und nichts zu suchen,    
Das war mein Sinn.    
     
Im Schatten sah ich    
Ein Blümchen stehn,    
Wie Sterne leuchtend    
Wie Äuglein schön.    
     
Ich wollt es brechen,    
Da sagt' es fein:    
Soll ich zum Welken,    
Gebrochen sein?    
     
Ich grubs mit allen    
Den Würzeln aus,    
Zum Garten trug ichs    
Am hübschen Haus.    
     
Und pflanzt es wieder    
Am stillen Ort;    
Nun zweigt es immer    
Und blüht so fort.

Breath (Georgi Bratanov)

Author: Georgi Bratanov

The sky inhales dusk
expires light.
Again and yet again...
Night and day take turns
Sky and dusk. Sky and light.
Time is round turning
and all constellations
chime over my soul as bells would
Again and yet again...

Where am I, who am I and why
My questions try
To reach the white egg of mystery,
To get into the living kernel of eternity
And to come back along the back route.
To me - me, white
As a Tibet snow-man,
More white, more blue, more rose, more green
And more infinite than susetless down.
The man in the clutches his soul
And weeps as God,
Thirsting for twin, for brother, for double

Georgi Bratanov lahir pada tahun 1944 di kota Yambol. Ia kuliah jurusan Jurnalisme di University "Sv. Kliment Ohridsky" Sofia. Setelah menyelesaikan studi, Bratanov bekerja sebagai editor-in-chief majalah "Zary" dan menjadi pembicara bagi Union of the Blind di Bulgaria. Georgi Bratanov memenangkan serangkaian kontes National Literary Prizes. Karyanya yang berbahasa Bulgaria telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Spanyol, Rusia, Italia, Finlandia, Rumania dan Usbekh.

Tuesday, February 7, 2012

Burnt, but Steel

it's gonna take hundreds of degrees at Fahrenheit readings
to collectively melt a structure made from heterogeneous matters
since iron, lead, copper, aluminum, bronze, gold, and silver
are different in melting points, chemically saying
but it's gonna take only seconds to break them down chaotically
the matters stronger may stand still, the weaker ones shall be taken down
the stronger ones shall be affected to some degrees
as they're basically a structure makers



of pluses and minuses of this colorful bound
they should have been blessed by its beholders
it's never easy to make the right, desired combination
it's, nevertheless, never easy to let it go down




the steel they are called eventually
where the very best efforts should be made to decompose them
as hard as the founders made any of those raw materials into one for generations
a more than head of stone to have it sustainable for lives
even when one generation leaves it behind
it will survive and welcome the other
it will keep the promise eventhough it's behind all lies



(Semarang, February 7th, 2012)

Monday, February 6, 2012

Hikayat Tiwa (1): Sejumput Garam di Belanga

Maharaja Tiwa yang gundah gulana duduk di atas singgasana Kerajaan Tiwa yang megah. Didampingi penasihatnya, Tuanku Serupa-emmet, tengah memperbincangkan tentang rencana seribu hari mendatang. Tuanku Serupa-emmet mungkin jarang nampak oleh penduduk Kerajaan Tiwa namun pastilah ia orang penting bagi Maharaja. Ia adalah salah satu tangan kanan Maharaja Tiwa. Dari masalah cucian yang belum dikembalikan oleh tukang cuci hingga masalah burung kesayangan, Kukilajene, yang sedang terluka sayapnya.

"Padahal aku sudah memberinya ajian Kitiran Gasal. Tapi mengapa ia tak kunjung bisa terbang?" Keluh Maharaja.

Tak jauh dari tempat Tuanku Serupa-emmet duduklah Pangeran Matahari. Ia juga memikirkan tentang patahnya sayap Kukilajene kesayangan ayahandanya.

"Benar ayahanda paduka. Ananda telah melatihnya dengan ajian Kitiran Gasal hingga tingkat 11. Apakah perlu ananda keluarkan ajian tingkat 14?" ujar Pangeran Matahari disertai pertanyaan.

"Jangan, ananda. Jika kau paksakan akibatnya bisa runyam. Bukan demikian Andika Serupa-emmet?" Cegah Maharaja seraya meminta masukan dari Tuanku Serupa-emmet.

"Hamba rasa demikian, paduka. Keadaan Kukilajene itu tidak memungkinkan untuk diberi ajian sampai tingkat tertinggi," jawab Tuanku Serupa-emmet.

Sejenak setelah perbincangan datanglah Panglima Bagus Aromakota.

"Izin menghadap, paduka. Hamba hendak mewartakan kabar penting," pinta Bagus Aromakota.

"Ya, bicaralah, Panglima," jawab Maharaja.

"Paduka tengah bergundah hati. Mohon petunjuk dari paduka," ungkap Panglima.

"Ah, apalagi yang terjadi?" tanya Maharaja keheran-heranan, "Cucian belum siap, burungku eh burung kesayanganku belum sembuh, sekarang....yah, teruskan, teruskanlah, panglima," perintah Maharaja Tiwa.

"Hamba sebagai pandega perbaikan pagupon Kukilajene merasa kekurangan paku, reng, dan atap," Panglima menjelaskan duduk persoalannya.

"Akh... Lantas bagaimana andika mengatasinya? Mengapa bisa kurang?" tanya Maharaja setengah tidak percaya.

"Anu, paduka... Para pekerja kekurangan garam dapur sehingga hamba terpaksa membelikannya garam dahulu untuk mereka sehingga sejenak terlupa akan paku, reng, dan atap itu. Mohon ampun, paduka yang mulia," Panglima Bagus Aromakota memaparkan alasan dengan rasa ketakutan, "Ini hamba juga bawakan garam untuk paduka," lanjutnya.

"Lantas, apa yang terjadi dengan penasihatmu, Gladiragaputra. Apakah dia juga kekurangan garam?" tanya Maharaja Tiwa.

"Ehm, sebenarnya tidak, paduka. Namun hamba juga berikan garam kepadanya," jawab Panglima tentang Penasihat Gladiragaputra.

"Ya sudah. Tapi harap selesaikan pagupon itu secepatnya sebelum acara penyambutan para raja seberang dalam Upacara Kridaloka Jalesveva," perintah Maharaja.

"Baiklah, paduka yang mulia. Hamba mohon restunya," Panglima Bagus Aromakota mohon diri.

Dua pekan berlalu, Kerajaan Tiwa mengirimkan pasukan menuju ke Kerajaan Bandejapaisha. Ekspedisi tersebut bertujuan untuk mengambil persembahan Pasir Akkar. Pasir yang terkenal liat dan mahal akan digunakan untuk membangun Aula Persemaian yang akan diresmikan pada Upacara Dasamukti.

Friday, February 3, 2012

Circle of fire

At the edge of almost every corner, today
cold water have become rare
in every single day human passes
boiling points have become easier to fare

Through decades of the discovery
particularly as the industrialisation begins
the roaring machines keep running out cooling systems
though innovations keep growing

Worms, ants, rats, and their underground fellows
emerge from beneath making crowds on the surface
they get annoyed as the earth is trembling
another crack another hole on another day

The heating electrifies the tools
and the tools dive closer and closer to the fire center
up and below collied noisily in a stressful manner
side to side bang each other in equal decibels

The crowds and the noises
the spoils of earth-born matters are the irony
cause their homes grieve in agony
again, in a stressful manner
when the heat becomes easier to be


(Semarang, February 3rd, 2012)

Friday, January 27, 2012

Awan berarak pagi itu

Photo source: www.citi-data.com

Dari arah Utara melangkah diterpa angin fajar
ketika lambaian dahan memanggil untuk mendekat
semakin mendekat ke cakrawala Selatan
segumpal awan tebal bergulung mengerikan

Inikah pagi yang kuharapkan?
jelasnya, mentari belum jua menyapa
kiranya ia sembunyi di balik gumpalan awan yang lain
ia seperti kedinginan seperti aku yang menggigil karena angin itu

Langkah malas harus ditempuh
atau cakrawala takkan terengkuh
terdorong tiupan yang makin kencang
kakipun bergetar berusaha tegar dan tak gentar


(Semarang, 24 Jan. 2012)

Bubble & Freedom (Neda Darzi)

Neda Darzi (Photo credit: Masoud Soheili)
Guest poems: Neda Darzi

BUBBLE

Journey journey, a dream a mirage
A familiarity a separation
To be not to be, coming going, where to?
Floated the bubbles, any one to anywhere:
One to the north of the jungles
One to the south of the deserts
One to the east, one to the west
Light, liquid, limpid and discerning bubbles
Each one is a story, a pearl of secrets
Is there any ability to say?
Is there any hope to return?
One was attempted to the sea, one was joint to the melody of dew
One was burst by a jay

And one was returned as a clear mirror

FREEDOM

I was living in my own loneliness' desert
The sudden melody of the wind whispered smoothly:
Be flow, be free
To an ambiguous place, preplanned and bewildered,
Lost in space and place
The honored palms, a green root woods in the sea,
Eye veiled woman, blinds for beauties
It was a dream or reality?
Mercy, pity, peace and love unified us
We get together and revolted
Now we whisper to the wind:

Be flow, be free

Thursday, January 26, 2012

When it comes January

IIn the West is around the Winter
or after Christmas holidays
in the East some say
it will rain almost everyday
at the beginning of the year
all are hoping for brand new starts
through fires and ices
the whole year that has been past

It is for the sake of the old times
the January song is sung
after having all sweets and sours
the morning sun is greet by great expectations
it is like no other day to come
or to be better
than the first second
of the new year

I, you and everybody make a resolution
for better things
we all enjoy the last night
yet eventually the first one
and it will always be like that one in a year,
not once in a life time

The new day has begun but
will surely leave us memories
in whather they take
when another day begins to welcome us
as the world keeps turning around
and as the clock goes back to the zero start
only hoping the new thing which is surprising
though predetermined and predicted

(Semarang, 24.01.2012)