Friday, October 28, 2011

Pucung Gangsal Prakawis

Seperti ditulis oleh Tiyo Widodo dalam Kompasiana.com

Nagri iki
saweg nandhang cidra ati
kathah durangkara
ngalor-ngidul gara-gara
yen sinawang
kaya ngelak banyu abang

Laku becik
kudune mituwuh apik
nanging sing kalakon
satuhu ora kebathon
kang prasetya
kapilara kapidana
Lembah manah
prayogane nggebyah uyah
panggalih kang edi
kudune mepeti werdi
sing ginawa
lathi alus lan wibawa
Slira manteb
rasa lantip ati landhep
sabarang prakara
ora sirna kanthi mawa
sareh mikir
durjana bakal sumingkir
Titi wanci
mlakune tan ana mati
pratikna ing karep
rumatana nganti jangkep
teteg puguh
kasembatan ing panggayuh
(Pleburan, Semarang, 22 Juli 2011)

Tuesday, October 25, 2011

I'll be over you (Toto, 1986)

sweetslyrics.com

Some people live their dreams
Some people close their eyes
Some people's destiny
Passes by

There are no guarantees
There are no alibis
That's how our love must be
Don't ask why

Bridge:
It takes some time
God knows how long
I know that I can forget you

As soon as my heart stops breakin'
Anticipating
As soon as forever is through
I'll be over you

Remembering times gone by
Promises we once made
What are the reasons why
Nothing stays the same

Bridge:
There were the nights holding you close
Someday I'll try to forget them
Someday I'll be over you

Wednesday, October 19, 2011

Rain Is Growing, And So Is Hope

Promising Wednesday
Thank you for the colourful Wednesday
Today is,
please never get bored,
once again a truly Wednesday.
The soil is for the first time actually wet.
Shower from heaven in the afternoon gave more hope
for the crops.
It is a kind that offers a bit smile
in the middle of drought.
The after-the-rain smell
is legendary
and my spirit grows.

Thursday, October 13, 2011

Purnama Oktober 2011

Dikutip dari status Facebook saya, Kamis petang, 13 Oktober 2011


bulan merah jambu luruh di kotaku (asli ini bukan lagu)... ku duduk menghadap ke timur di pertigaan legendaris itu, tidak terlalu sliwar-liwer komuter jadi suasana syahdu...
dari sisi kanan bawah dari pandang mata ku, menyertai dengan setia lonely star (opo kuwi, Venus ya ketokke?). meski langit tidak terlalu cerah, tapi cahya rembulan berpendar tanpa penghalang (arah jam 11 dari posisi dudukku).
andaikan lampu neon tidak membuat anomali cahaya di sekitarku, pasti lebih indah suasanyana.... jalan relatip sepi, suara kompor gas juga tak terlalu mbrebegi....
19 menit berlalu kok rembulannya makin meninggi? jadi mendangak ni aku kalo memandangnya.... ehm, tapi makin tak berpenghalang. sekarang bebas lepas di angkasa.... kok nggak jatuh yaa? 
di bawah sinar bulan purnama, hati rindu jadi senang... tapi nggak ada gitar berbunyi riang gembira.... adanya suara wajan beradu dengan solet.... ah rupanya ada orang sedang pesan mie.... jan kok ndadak bakulan mie barang; mbok sudah nasi bungkus saja.... 
mendiskusikan tentang hewan qurban, kambing/sapi untuk qurban itu apa wajip jantan, atau betina juga boleh? kalo yang kudengar dari pengajian malem ini (baru saja selesai, tapi aku ndengarkan dari kamar kos), itu tidak ada kewajiban harus jantan. dari genteng kaca, rembulan tetap menemani. ah, bentar, mbul, aku bergabung lagi...tunggu ya...
 bertambah jauh malam dari petang, sang Venus (asumsiku) makin sejajar dengan rembulan. sinarnya terpantul pada galon tandon air aluminium di atas balkon rumah tingkat sebelah warung prasmanan. tidak menyilaukan, justru sangat adem dipandang.... 
tiba pada suatu masa rembulanku beringsut sejenak di balik dedaunan pohon besar di atas tempatku duduk. pada saat bersamaan di sebelahku bergumam seorang pengunjung warung mengeluhkan pekerjaannya.
ah, bukan momentum yang baik, mendingan ku tinggal sejenak ke markasnya Pak Dib....kedamaian jangan cepat berlalu deh :) 
woo, ternyata itu bukan Venus tapi Yupiter....lewat tengah malam, setelah sempat liyer-liyer teklak-tekluk mata berat, mak jenggirat memandang ke arah langit....wah! bintang berhamburan.... meskipun tidak terlalu banyak... sekelebat halo melingkar meski samar-samar