Wednesday, February 22, 2012

Gefunden (J. W. von Goethe)

Author: Johann Wolfgang von Goethe

Ich ging im Walde    
So für mich hin,    
Und nichts zu suchen,    
Das war mein Sinn.    
     
Im Schatten sah ich    
Ein Blümchen stehn,    
Wie Sterne leuchtend    
Wie Äuglein schön.    
     
Ich wollt es brechen,    
Da sagt' es fein:    
Soll ich zum Welken,    
Gebrochen sein?    
     
Ich grubs mit allen    
Den Würzeln aus,    
Zum Garten trug ichs    
Am hübschen Haus.    
     
Und pflanzt es wieder    
Am stillen Ort;    
Nun zweigt es immer    
Und blüht so fort.

Breath (Georgi Bratanov)

Author: Georgi Bratanov

The sky inhales dusk
expires light.
Again and yet again...
Night and day take turns
Sky and dusk. Sky and light.
Time is round turning
and all constellations
chime over my soul as bells would
Again and yet again...

Where am I, who am I and why
My questions try
To reach the white egg of mystery,
To get into the living kernel of eternity
And to come back along the back route.
To me - me, white
As a Tibet snow-man,
More white, more blue, more rose, more green
And more infinite than susetless down.
The man in the clutches his soul
And weeps as God,
Thirsting for twin, for brother, for double

Georgi Bratanov lahir pada tahun 1944 di kota Yambol. Ia kuliah jurusan Jurnalisme di University "Sv. Kliment Ohridsky" Sofia. Setelah menyelesaikan studi, Bratanov bekerja sebagai editor-in-chief majalah "Zary" dan menjadi pembicara bagi Union of the Blind di Bulgaria. Georgi Bratanov memenangkan serangkaian kontes National Literary Prizes. Karyanya yang berbahasa Bulgaria telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Spanyol, Rusia, Italia, Finlandia, Rumania dan Usbekh.

Tuesday, February 7, 2012

Burnt, but Steel

it's gonna take hundreds of degrees at Fahrenheit readings
to collectively melt a structure made from heterogeneous matters
since iron, lead, copper, aluminum, bronze, gold, and silver
are different in melting points, chemically saying
but it's gonna take only seconds to break them down chaotically
the matters stronger may stand still, the weaker ones shall be taken down
the stronger ones shall be affected to some degrees
as they're basically a structure makers



of pluses and minuses of this colorful bound
they should have been blessed by its beholders
it's never easy to make the right, desired combination
it's, nevertheless, never easy to let it go down




the steel they are called eventually
where the very best efforts should be made to decompose them
as hard as the founders made any of those raw materials into one for generations
a more than head of stone to have it sustainable for lives
even when one generation leaves it behind
it will survive and welcome the other
it will keep the promise eventhough it's behind all lies



(Semarang, February 7th, 2012)

Monday, February 6, 2012

Hikayat Tiwa (1): Sejumput Garam di Belanga

Maharaja Tiwa yang gundah gulana duduk di atas singgasana Kerajaan Tiwa yang megah. Didampingi penasihatnya, Tuanku Serupa-emmet, tengah memperbincangkan tentang rencana seribu hari mendatang. Tuanku Serupa-emmet mungkin jarang nampak oleh penduduk Kerajaan Tiwa namun pastilah ia orang penting bagi Maharaja. Ia adalah salah satu tangan kanan Maharaja Tiwa. Dari masalah cucian yang belum dikembalikan oleh tukang cuci hingga masalah burung kesayangan, Kukilajene, yang sedang terluka sayapnya.

"Padahal aku sudah memberinya ajian Kitiran Gasal. Tapi mengapa ia tak kunjung bisa terbang?" Keluh Maharaja.

Tak jauh dari tempat Tuanku Serupa-emmet duduklah Pangeran Matahari. Ia juga memikirkan tentang patahnya sayap Kukilajene kesayangan ayahandanya.

"Benar ayahanda paduka. Ananda telah melatihnya dengan ajian Kitiran Gasal hingga tingkat 11. Apakah perlu ananda keluarkan ajian tingkat 14?" ujar Pangeran Matahari disertai pertanyaan.

"Jangan, ananda. Jika kau paksakan akibatnya bisa runyam. Bukan demikian Andika Serupa-emmet?" Cegah Maharaja seraya meminta masukan dari Tuanku Serupa-emmet.

"Hamba rasa demikian, paduka. Keadaan Kukilajene itu tidak memungkinkan untuk diberi ajian sampai tingkat tertinggi," jawab Tuanku Serupa-emmet.

Sejenak setelah perbincangan datanglah Panglima Bagus Aromakota.

"Izin menghadap, paduka. Hamba hendak mewartakan kabar penting," pinta Bagus Aromakota.

"Ya, bicaralah, Panglima," jawab Maharaja.

"Paduka tengah bergundah hati. Mohon petunjuk dari paduka," ungkap Panglima.

"Ah, apalagi yang terjadi?" tanya Maharaja keheran-heranan, "Cucian belum siap, burungku eh burung kesayanganku belum sembuh, sekarang....yah, teruskan, teruskanlah, panglima," perintah Maharaja Tiwa.

"Hamba sebagai pandega perbaikan pagupon Kukilajene merasa kekurangan paku, reng, dan atap," Panglima menjelaskan duduk persoalannya.

"Akh... Lantas bagaimana andika mengatasinya? Mengapa bisa kurang?" tanya Maharaja setengah tidak percaya.

"Anu, paduka... Para pekerja kekurangan garam dapur sehingga hamba terpaksa membelikannya garam dahulu untuk mereka sehingga sejenak terlupa akan paku, reng, dan atap itu. Mohon ampun, paduka yang mulia," Panglima Bagus Aromakota memaparkan alasan dengan rasa ketakutan, "Ini hamba juga bawakan garam untuk paduka," lanjutnya.

"Lantas, apa yang terjadi dengan penasihatmu, Gladiragaputra. Apakah dia juga kekurangan garam?" tanya Maharaja Tiwa.

"Ehm, sebenarnya tidak, paduka. Namun hamba juga berikan garam kepadanya," jawab Panglima tentang Penasihat Gladiragaputra.

"Ya sudah. Tapi harap selesaikan pagupon itu secepatnya sebelum acara penyambutan para raja seberang dalam Upacara Kridaloka Jalesveva," perintah Maharaja.

"Baiklah, paduka yang mulia. Hamba mohon restunya," Panglima Bagus Aromakota mohon diri.

Dua pekan berlalu, Kerajaan Tiwa mengirimkan pasukan menuju ke Kerajaan Bandejapaisha. Ekspedisi tersebut bertujuan untuk mengambil persembahan Pasir Akkar. Pasir yang terkenal liat dan mahal akan digunakan untuk membangun Aula Persemaian yang akan diresmikan pada Upacara Dasamukti.

Friday, February 3, 2012

Circle of fire

At the edge of almost every corner, today
cold water have become rare
in every single day human passes
boiling points have become easier to fare

Through decades of the discovery
particularly as the industrialisation begins
the roaring machines keep running out cooling systems
though innovations keep growing

Worms, ants, rats, and their underground fellows
emerge from beneath making crowds on the surface
they get annoyed as the earth is trembling
another crack another hole on another day

The heating electrifies the tools
and the tools dive closer and closer to the fire center
up and below collied noisily in a stressful manner
side to side bang each other in equal decibels

The crowds and the noises
the spoils of earth-born matters are the irony
cause their homes grieve in agony
again, in a stressful manner
when the heat becomes easier to be


(Semarang, February 3rd, 2012)