Friday, October 28, 2011

Pucung Gangsal Prakawis

Seperti ditulis oleh Tiyo Widodo dalam Kompasiana.com

Nagri iki
saweg nandhang cidra ati
kathah durangkara
ngalor-ngidul gara-gara
yen sinawang
kaya ngelak banyu abang

Laku becik
kudune mituwuh apik
nanging sing kalakon
satuhu ora kebathon
kang prasetya
kapilara kapidana
Lembah manah
prayogane nggebyah uyah
panggalih kang edi
kudune mepeti werdi
sing ginawa
lathi alus lan wibawa
Slira manteb
rasa lantip ati landhep
sabarang prakara
ora sirna kanthi mawa
sareh mikir
durjana bakal sumingkir
Titi wanci
mlakune tan ana mati
pratikna ing karep
rumatana nganti jangkep
teteg puguh
kasembatan ing panggayuh
(Pleburan, Semarang, 22 Juli 2011)

Wednesday, October 19, 2011

Rain Is Growing, And So Is Hope

Promising Wednesday
Thank you for the colourful Wednesday
Today is,
please never get bored,
once again a truly Wednesday.
The soil is for the first time actually wet.
Shower from heaven in the afternoon gave more hope
for the crops.
It is a kind that offers a bit smile
in the middle of drought.
The after-the-rain smell
is legendary
and my spirit grows.

Thursday, October 13, 2011

Purnama Oktober 2011

Dikutip dari status Facebook saya, Kamis petang, 13 Oktober 2011


bulan merah jambu luruh di kotaku (asli ini bukan lagu)... ku duduk menghadap ke timur di pertigaan legendaris itu, tidak terlalu sliwar-liwer komuter jadi suasana syahdu...
dari sisi kanan bawah dari pandang mata ku, menyertai dengan setia lonely star (opo kuwi, Venus ya ketokke?). meski langit tidak terlalu cerah, tapi cahya rembulan berpendar tanpa penghalang (arah jam 11 dari posisi dudukku).
andaikan lampu neon tidak membuat anomali cahaya di sekitarku, pasti lebih indah suasanyana.... jalan relatip sepi, suara kompor gas juga tak terlalu mbrebegi....
19 menit berlalu kok rembulannya makin meninggi? jadi mendangak ni aku kalo memandangnya.... ehm, tapi makin tak berpenghalang. sekarang bebas lepas di angkasa.... kok nggak jatuh yaa? 
di bawah sinar bulan purnama, hati rindu jadi senang... tapi nggak ada gitar berbunyi riang gembira.... adanya suara wajan beradu dengan solet.... ah rupanya ada orang sedang pesan mie.... jan kok ndadak bakulan mie barang; mbok sudah nasi bungkus saja.... 
mendiskusikan tentang hewan qurban, kambing/sapi untuk qurban itu apa wajip jantan, atau betina juga boleh? kalo yang kudengar dari pengajian malem ini (baru saja selesai, tapi aku ndengarkan dari kamar kos), itu tidak ada kewajiban harus jantan. dari genteng kaca, rembulan tetap menemani. ah, bentar, mbul, aku bergabung lagi...tunggu ya...
 bertambah jauh malam dari petang, sang Venus (asumsiku) makin sejajar dengan rembulan. sinarnya terpantul pada galon tandon air aluminium di atas balkon rumah tingkat sebelah warung prasmanan. tidak menyilaukan, justru sangat adem dipandang.... 
tiba pada suatu masa rembulanku beringsut sejenak di balik dedaunan pohon besar di atas tempatku duduk. pada saat bersamaan di sebelahku bergumam seorang pengunjung warung mengeluhkan pekerjaannya.
ah, bukan momentum yang baik, mendingan ku tinggal sejenak ke markasnya Pak Dib....kedamaian jangan cepat berlalu deh :) 
woo, ternyata itu bukan Venus tapi Yupiter....lewat tengah malam, setelah sempat liyer-liyer teklak-tekluk mata berat, mak jenggirat memandang ke arah langit....wah! bintang berhamburan.... meskipun tidak terlalu banyak... sekelebat halo melingkar meski samar-samar     



Wednesday, July 27, 2011

Indonesia Tetap No.1

Saya dengar keluh-kesah mereka tentangmu
menyimak harapan sia-sia padamu
hujatan menerpa keharibaanmu
penilaian kotor dan jorok tentang lingkunganmu
cacian rusak dan binasa akan alammu
cercaan kemunafikan beralamat rumahmu
cibiran yang menyepelekanmu

Itu semua tidak akan melunturkanku
akan cinta dan setiaku
tidak pula padamkan harapku
akan kejayaan dan kemuliaanmu
kau benar, itu memang kau bangsaku
kau salah, itu yang harus kubantu perbaiki untukmu
tiada setitikpun asa untuk meninggalkanmu
untuk mengabaikanmu
tiada sesal senoktahpun terlahir di pangkuanmu
ini ungkapan kebangganku
sebagai manusia berukir namamu

Biarkan celoteh-celoteh itu menderu
tentang bodoh, malas, terbelakang,
yang dengan bebas dan fasih terlafalkan dalam bahasamu
kitapun mampu membuat mereka tersedu-sedu
mereka tak akan menari tanpa iramamu,tak akan menyanyi tanpa nadamu
mereka bak sampah tanpa keberadaanmu, sampah!, sampah!, chuaaaahh!!!

INDONESIAKU,
biarpun badai menerpamu, biarpun ombak menghantammu
biarpun orang sendiri makin tak mempercayaimu,
bagi saya kamu tetap NOMOR SATU
siapapun yang melecehkan dirimu, menjelek-jelekkanmu
tak peduli itu bagian darimu
pada mereka saya tak akan segan berteriak...
Asu!! Fuck you!!

Saturday, July 23, 2011

Kridhaning Panggalih

tengah wengi wus sawantara lingsir
pinarak candra ing sak legoking wukir
dene para abdi saha nayakaning praja ing sisih wetan
taksih manganendra dumugining kidung kukila

netra angglayut namung pijer waspadha
ana ing sembir kiwa-tengen mutah kuwaya
saya pedhes nanging saya waskitha

pasaren iseh adoh saka panjangka
arepa pasewakan sampun paripurna
tuwuh mring tyas batin ngalebet
yen dangu taksih anggenipun ngalembana

inggih punika gelaripun jagat jinantra
tan ana watesanipun ugi sarehipun
inggih mboten sanes nuli jangkep,
karenteging panggalih

(Pleburan, Semarang, 20 Juli 2011)

Sunday, February 27, 2011

Silence the Noise

In the crowds of hundreds commuters
mind was busy thinking
what for it's being there
where ears  continued going banged
by the shouts of decibels

At the corner of the sidewalks
down the Metro of ambushes
to blow your nerves
still the will couldn't give in the wheels

Justice in the loaded barrels
it's what being applied when you're on the street
as you're on your own
there'll be no one but you
to step aside the bumpy roads

As the crowds went nasty and mean
it's on your feet how the walk be made
just like in your vessels where the blood be flown

(Kucingan Mas Roni, Jl. Hayamwuruk Pleburan, Semarang, 27 Pebruari 2011)

Friday, February 25, 2011

Stone cold River

A river splits the valley
its length is so distant as it may be
up the stream couple miles away
as you walk up there on your naked feet

Through the downstream where bushes lie
and stony road built in between
only a few dares take the risks
where misty field keeps silent still
where ghosts and beasts keep marching on

And the valley remains unchanged
in purity which never be ashamed
and the river endures the name
no one takes chance except who dares

Believe In Your Heart (Stacey Chillemi)

 Poet: Stacey Chillemi

I woke up one night in the hours of darkness,
I sat up straight in my bed to find a shimmering light in my closet,
But their where no lights on in the room,
I got up and went slowly toward the closet,
To find a pair of gold wings,
An angel was standing by my side,
“What do I do with these gold wings?” I asked the angel
“Put the wings on my child.” Answered the angel
I put the wings on flew to a place that had many stars,
The angel then appeared and said, “Follow your heart, your goals and your dreams.”
Only you know what is right for you
Anything is possible
Miracles do come true ,
Hope and dreams are a reality if let them be,
Life can be wonderful if you let it be,

Friday, February 11, 2011

Footprint on Your Heart (Gary Lenhart)

Someone will walk into your life,
Leave a footprint on your heart,
Turn it into a mudroom cluttered
With encrusted boots, children's mittens,
Scratchy scarves—
Where you linger to unwrap 
Or ready yourself for rough exits 
Into howling gales or onto 
Frozen car seats, expulsions
Into the great outdoors where touch
Is muffled, noses glisten,
And breaths stab,
So that when you meet someone
Who is leaving your life
You will be able to wave stiffIcy mitts and look forward
To an evening in spring
When you can fold winter away
Until your next encounter with
A chill so numbing you strew
The heart's antechamber
With layers of rural garble.
 
(A poem by Gary Lenhart | www.poets.org)