Thursday, February 16, 2012
Tuesday, February 7, 2012
Burnt, but Steel
it's gonna take hundreds of degrees at Fahrenheit readings
to collectively melt a structure made from heterogeneous matters
since iron, lead, copper, aluminum, bronze, gold, and silver
are different in melting points, chemically saying
but it's gonna take only seconds to break them down chaotically
the matters stronger may stand still, the weaker ones shall be taken down
the stronger ones shall be affected to some degrees
as they're basically a structure makers
of pluses and minuses of this colorful bound
they should have been blessed by its beholders
it's never easy to make the right, desired combination
it's, nevertheless, never easy to let it go down
the steel they are called eventually
where the very best efforts should be made to decompose them
as hard as the founders made any of those raw materials into one for generations
a more than head of stone to have it sustainable for lives
even when one generation leaves it behind
it will survive and welcome the other
it will keep the promise eventhough it's behind all lies
(Semarang, February 7th, 2012)
to collectively melt a structure made from heterogeneous matters
since iron, lead, copper, aluminum, bronze, gold, and silver
are different in melting points, chemically saying
but it's gonna take only seconds to break them down chaotically
the matters stronger may stand still, the weaker ones shall be taken down
the stronger ones shall be affected to some degrees
as they're basically a structure makers
of pluses and minuses of this colorful bound
they should have been blessed by its beholders
it's never easy to make the right, desired combination
it's, nevertheless, never easy to let it go down
the steel they are called eventually
where the very best efforts should be made to decompose them
as hard as the founders made any of those raw materials into one for generations
a more than head of stone to have it sustainable for lives
even when one generation leaves it behind
it will survive and welcome the other
it will keep the promise eventhough it's behind all lies
(Semarang, February 7th, 2012)
Monday, February 6, 2012
Hikayat Tiwa (1): Sejumput Garam di Belanga
Maharaja Tiwa yang gundah gulana duduk di atas singgasana Kerajaan Tiwa yang megah. Didampingi penasihatnya, Tuanku Serupa-emmet, tengah memperbincangkan tentang rencana seribu hari mendatang. Tuanku Serupa-emmet mungkin jarang nampak oleh penduduk Kerajaan Tiwa namun pastilah ia orang penting bagi Maharaja. Ia adalah salah satu tangan kanan Maharaja Tiwa. Dari masalah cucian yang belum dikembalikan oleh tukang cuci hingga masalah burung kesayangan, Kukilajene, yang sedang terluka sayapnya.
"Padahal aku sudah memberinya ajian Kitiran Gasal. Tapi mengapa ia tak kunjung bisa terbang?" Keluh Maharaja.
Tak jauh dari tempat Tuanku Serupa-emmet duduklah Pangeran Matahari. Ia juga memikirkan tentang patahnya sayap Kukilajene kesayangan ayahandanya.
"Benar ayahanda paduka. Ananda telah melatihnya dengan ajian Kitiran Gasal hingga tingkat 11. Apakah perlu ananda keluarkan ajian tingkat 14?" ujar Pangeran Matahari disertai pertanyaan.
"Jangan, ananda. Jika kau paksakan akibatnya bisa runyam. Bukan demikian Andika Serupa-emmet?" Cegah Maharaja seraya meminta masukan dari Tuanku Serupa-emmet.
"Hamba rasa demikian, paduka. Keadaan Kukilajene itu tidak memungkinkan untuk diberi ajian sampai tingkat tertinggi," jawab Tuanku Serupa-emmet.
Sejenak setelah perbincangan datanglah Panglima Bagus Aromakota.
"Izin menghadap, paduka. Hamba hendak mewartakan kabar penting," pinta Bagus Aromakota.
"Ya, bicaralah, Panglima," jawab Maharaja.
"Paduka tengah bergundah hati. Mohon petunjuk dari paduka," ungkap Panglima.
"Ah, apalagi yang terjadi?" tanya Maharaja keheran-heranan, "Cucian belum siap, burungku eh burung kesayanganku belum sembuh, sekarang....yah, teruskan, teruskanlah, panglima," perintah Maharaja Tiwa.
"Hamba sebagai pandega perbaikan pagupon Kukilajene merasa kekurangan paku, reng, dan atap," Panglima menjelaskan duduk persoalannya.
"Akh... Lantas bagaimana andika mengatasinya? Mengapa bisa kurang?" tanya Maharaja setengah tidak percaya.
"Anu, paduka... Para pekerja kekurangan garam dapur sehingga hamba terpaksa membelikannya garam dahulu untuk mereka sehingga sejenak terlupa akan paku, reng, dan atap itu. Mohon ampun, paduka yang mulia," Panglima Bagus Aromakota memaparkan alasan dengan rasa ketakutan, "Ini hamba juga bawakan garam untuk paduka," lanjutnya.
"Lantas, apa yang terjadi dengan penasihatmu, Gladiragaputra. Apakah dia juga kekurangan garam?" tanya Maharaja Tiwa.
"Ehm, sebenarnya tidak, paduka. Namun hamba juga berikan garam kepadanya," jawab Panglima tentang Penasihat Gladiragaputra.
"Ya sudah. Tapi harap selesaikan pagupon itu secepatnya sebelum acara penyambutan para raja seberang dalam Upacara Kridaloka Jalesveva," perintah Maharaja.
"Baiklah, paduka yang mulia. Hamba mohon restunya," Panglima Bagus Aromakota mohon diri.
Dua pekan berlalu, Kerajaan Tiwa mengirimkan pasukan menuju ke Kerajaan Bandejapaisha. Ekspedisi tersebut bertujuan untuk mengambil persembahan Pasir Akkar. Pasir yang terkenal liat dan mahal akan digunakan untuk membangun Aula Persemaian yang akan diresmikan pada Upacara Dasamukti.
"Padahal aku sudah memberinya ajian Kitiran Gasal. Tapi mengapa ia tak kunjung bisa terbang?" Keluh Maharaja.
Tak jauh dari tempat Tuanku Serupa-emmet duduklah Pangeran Matahari. Ia juga memikirkan tentang patahnya sayap Kukilajene kesayangan ayahandanya.
"Benar ayahanda paduka. Ananda telah melatihnya dengan ajian Kitiran Gasal hingga tingkat 11. Apakah perlu ananda keluarkan ajian tingkat 14?" ujar Pangeran Matahari disertai pertanyaan.
"Jangan, ananda. Jika kau paksakan akibatnya bisa runyam. Bukan demikian Andika Serupa-emmet?" Cegah Maharaja seraya meminta masukan dari Tuanku Serupa-emmet.
"Hamba rasa demikian, paduka. Keadaan Kukilajene itu tidak memungkinkan untuk diberi ajian sampai tingkat tertinggi," jawab Tuanku Serupa-emmet.
Sejenak setelah perbincangan datanglah Panglima Bagus Aromakota.
"Izin menghadap, paduka. Hamba hendak mewartakan kabar penting," pinta Bagus Aromakota.
"Ya, bicaralah, Panglima," jawab Maharaja.
"Paduka tengah bergundah hati. Mohon petunjuk dari paduka," ungkap Panglima.
"Ah, apalagi yang terjadi?" tanya Maharaja keheran-heranan, "Cucian belum siap, burungku eh burung kesayanganku belum sembuh, sekarang....yah, teruskan, teruskanlah, panglima," perintah Maharaja Tiwa.
"Hamba sebagai pandega perbaikan pagupon Kukilajene merasa kekurangan paku, reng, dan atap," Panglima menjelaskan duduk persoalannya.
"Akh... Lantas bagaimana andika mengatasinya? Mengapa bisa kurang?" tanya Maharaja setengah tidak percaya.
"Anu, paduka... Para pekerja kekurangan garam dapur sehingga hamba terpaksa membelikannya garam dahulu untuk mereka sehingga sejenak terlupa akan paku, reng, dan atap itu. Mohon ampun, paduka yang mulia," Panglima Bagus Aromakota memaparkan alasan dengan rasa ketakutan, "Ini hamba juga bawakan garam untuk paduka," lanjutnya.
"Lantas, apa yang terjadi dengan penasihatmu, Gladiragaputra. Apakah dia juga kekurangan garam?" tanya Maharaja Tiwa.
"Ehm, sebenarnya tidak, paduka. Namun hamba juga berikan garam kepadanya," jawab Panglima tentang Penasihat Gladiragaputra.
"Ya sudah. Tapi harap selesaikan pagupon itu secepatnya sebelum acara penyambutan para raja seberang dalam Upacara Kridaloka Jalesveva," perintah Maharaja.
"Baiklah, paduka yang mulia. Hamba mohon restunya," Panglima Bagus Aromakota mohon diri.
Dua pekan berlalu, Kerajaan Tiwa mengirimkan pasukan menuju ke Kerajaan Bandejapaisha. Ekspedisi tersebut bertujuan untuk mengambil persembahan Pasir Akkar. Pasir yang terkenal liat dan mahal akan digunakan untuk membangun Aula Persemaian yang akan diresmikan pada Upacara Dasamukti.
Subscribe to:
Posts (Atom)

