Saturday, March 14, 2009

Jombloo = Happy ?


Tentu itu karena keadaan yang mulanya "memaksa" untuk tetap merasa bahagia. Tentu dalam hati kecil ingin pula merasakan belaian sayang kekasih. Seperti mereka yang tengah menjalani mahligai nan indah dan berwarna.

Akhirnyalah dari terpaksa menjadi terbiasa. Tiada tempat untuk bersandar. Betapa sepinya. Begitulah hari-hari yang harus dilewati.

Sendiri bukan pilihan untuk selamanya. Buktinya, ada tersisa waktu kala merasa "kedinginan" di tengah malam. Kadang juga ... ah ... menangis (Pataskah? Betapa rapuhnya ...) Tapi itu yang senyatanya. Tak perlu ditutupi atau berlagak tahan banting. Yang menjadikan diri kuat hanyalah pertanyaan: "Maukah dirimu menggantikan jiwa dan ragaku? Menjalani ini semua seperti yang ku telah dan sedang jalani?" Hanya itulah yang membuat senyum, pun hanya sekejap.

Sendiri bukan karena enggan melepaskan status itu. Melainkan merasa betapa sulitnya untuk mengakhiri episode itu. "Bad luck", itu mungkin istilahnya. Akhirnya lah seperti ini. Harus tetap bahagia apapun yang sedang terjadi. Harus bahagia karena telah menjalani jurang yang terjal dan curam. "Auuch ... cakiitnya ..." Ya, siapa bilang tidak sakit? Dirasakan saja, "rak wis" :)

Anggap saja itu semua "door-prize" yang tidak setiap orang mendapatkannya ;).

2 comments:

Guest said...

Never give up..

Tiyo Widodo said...

thank you Guest, stand up like a steel... haha... mlaku kemitir tetep kuat...ora ketang leren semende sedelok ning ngoho....wakakak